“Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian
tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita”
Itulah kutipan yang tertera pada
bagian sampul belakang novel roman “Larasati” karya Pramoedya Ananta Toer.
Tertulis bahwa novel ini pada mulanya diterbitkan sebagai cerita bersambung
dalam surat kabar Bintang Timur pada tahun 1960 sebelum akhirnya dicetak
pertama kali menjadi novel oleh Hasta Mitra pada tahun 2000.
Novel “Larasati” mengambil
setting di Indonesia pada masa pasca proklamasi, yakni ketika para tentara
Belanda sedang gencar-gencarnya melakukan agresi untuk kembali merebut
Indonesia. Novel ini mengambil sudut pandang seorang perempuan, Larasati.
Larasati atau yang biasa disebut Ara diceritakan sebagai seorang aktris
panggung yang cantik yang begitu teguh akan prinsipnya tentang revolusi dan
kemerdekaan Indonesia. Ara yang awalnya menetap di Yogyakarta yang saat itu
merupakan daerah Republik, dikisahkan pergi ke Jakarta yang merupakan wilayah
pendudukan Belanda untuk menemui Ibunya. Selama perjalanannya dari daerah
Republik ke wilayah pendudukan Belanda, Ata melihat begitu banyak peristiwa dan
bertemu dengan orang-orang yang membuatnya semakin yakin untuk memperjuangkan
revolusi. Begitu pula setelah ia sampai di Jakarta dan tinggal di rumah Ibunya.
Ara bertemu dengan para pemuda yang begitu gigih dan tanpa pamrih untuk tetap
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, para pemuda berani yang tidak pernah
tergiur oleh kemewahan-kemewahan apapun yang ditawarkan bangsa asing. Ara juga
beberapa kali dihadapkan pada dua pilihan, antara bekerja sama dengan pihak
asing dan memperoleh berbagai keistimewaan namun berkhianat pada tanah airnya
atau tetap berpihak pada para pejuang demi kemerdekaan bangsanya. Novel ini
juga seolah menjadi kritik terhadap para penguasa masa itu, seperti yang
dituturkan oleh tokoh Ara, “Tidak, tidak
mungkin revolusi kalah, dengan pemuda-pemuda semacam itu, pemuda sekeras itu.
Kalau revolusi kalah, bukan karena mereka kurang berjuang. Kalau revolusi kalah
pasti karena para penguasanya yang berkhianat!”
Novel ini sangat menarik, karena
alih-alih mengambil sudut pandang tokoh-tokoh penting atau sentral pada masa
itu, Pram justru mengambil sudut pandang seorang aktris muda, seorang
perempuan. Karakteristik khas seorang perempuan yang dialami tokoh Larasati
membuat pembaca bisa merasakan seperti apa pergolakan yang terjadi pada masa
itu dari kacamata yang lain. Mengikuti perjalanan Ara dengan suasana yang
digambarkan cukup rinci membuat pembaca bisa merasakan bagaimana kondisi
Indonesia kala itu. Satu demi satu peristiwa yang dialami Ara semakin membawa
emosi dan membangkitkan semangat nasionalisme pembaca. Setelah selesai membaca
novel ini, saya bertanya pada sendiri, jika saya adalah Ara di masa itu, mana yang
akan saya pilih? Berpihak pada lawan kemudian hidup enak dan bermewah-mewahan,
atau tetap memilih hidup penuh kesulitan demi keyakinan akan kemerdekaan bangsa
sendiri dan bergabung dengan para pejuang?
