Sepanjang membaca novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan,
saya selalu dibuat kagum dengan karakter para perempuan-perempuan didalamnya.
Novel yang mengambil alur maju mundur ini mengangkat kisah mengenai Dewi Ayu,
seorang wanita yang memiliki kecantikan yang luar biasa dan mengabdikan dirinya
untuk menjadi pelacur. Sepanjang hidupnya, Dewi Ayu memiliki empat orang anak
perempuan, tiga diantaranya menjadi wanita-wanita yang mewarisi kecantikannya,
dan satu anak terakhirnya memiliki wajah yang sangat buruk rupa hingga
orang-orang yang tahan untuk menatapnya.
Membaca novel ini bagaikan membaca kisah mengenai para
perempuan dari sisi yang berbeda dari biasanya. Ketika biasanya kecantikan merupakan
sebuah anugerah yang didambakan oleh setiap wanita, namun tidak bagi Dewi Ayu
dan anak-anaknya. Dari novel ini, saya menyadari bahwa cantik bisa
direpresentasikan secara berbeda.
Cantik Itu Luka juga memiliki alur yang membuat saya kagum. Semua
kisah dalam buku ini diceritakan seolah memiliki jalan cerita masing-masing
namun pada akhirnya semuanya saling memiliki benang merah pada satu peristiwa,
bahkan alasan Dewi Ayu menjadi pelacur yang ternyata berkaitan dengan kondisi
sosial di masa itu dan cerita yang ia dapatkan mengenai leluhurnya di masa
lalu.
Saya juga selalu dibuat jatuh cinta dengan setiap tokoh di
novel ini dengan karakter-karakter mereka yang tidak biasa. Dewi Ayu, Alamanda,
Adinda, Maya Dewi, Si Cantik, Nurul Aini, Rengganis, semuanya adalah
wanita-wanita cantik, kuat, dan pemberani. Begitu pula dengan para tokoh pria
di sekeliling mereka yang meskipun terkesan sering kurang ajar, namun tetap
memiliki karakter yang unik dan khas sehingga membuat saya jatuh cinta pada
mereka.
Intinya, novel Cantik Itu Luka merupakan salah satu novel
terbaik yang pernah saya baca memang menjadi salah satu karya sastra terbaik
Indonesia. Berikut beberapa kutipan dari novel Cantik Itu Luka yang paling saya
ingat :
“kawin dengan orang yang tak pernah dicintai jauh lebih
buruk dari hidup sebagai pelacur”
“Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian
tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita”
Itulah kutipan yang tertera pada
bagian sampul belakang novel roman “Larasati” karya Pramoedya Ananta Toer.
Tertulis bahwa novel ini pada mulanya diterbitkan sebagai cerita bersambung
dalam surat kabar Bintang Timur pada tahun 1960 sebelum akhirnya dicetak
pertama kali menjadi novel oleh Hasta Mitra pada tahun 2000.
Novel “Larasati” mengambil
setting di Indonesia pada masa pasca proklamasi, yakni ketika para tentara
Belanda sedang gencar-gencarnya melakukan agresi untuk kembali merebut
Indonesia. Novel ini mengambil sudut pandang seorang perempuan, Larasati.
Larasati atau yang biasa disebut Ara diceritakan sebagai seorang aktris
panggung yang cantik yang begitu teguh akan prinsipnya tentang revolusi dan
kemerdekaan Indonesia. Ara yang awalnya menetap di Yogyakarta yang saat itu
merupakan daerah Republik, dikisahkan pergi ke Jakarta yang merupakan wilayah
pendudukan Belanda untuk menemui Ibunya. Selama perjalanannya dari daerah
Republik ke wilayah pendudukan Belanda, Ata melihat begitu banyak peristiwa dan
bertemu dengan orang-orang yang membuatnya semakin yakin untuk memperjuangkan
revolusi. Begitu pula setelah ia sampai di Jakarta dan tinggal di rumah Ibunya.
Ara bertemu dengan para pemuda yang begitu gigih dan tanpa pamrih untuk tetap
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, para pemuda berani yang tidak pernah
tergiur oleh kemewahan-kemewahan apapun yang ditawarkan bangsa asing. Ara juga
beberapa kali dihadapkan pada dua pilihan, antara bekerja sama dengan pihak
asing dan memperoleh berbagai keistimewaan namun berkhianat pada tanah airnya
atau tetap berpihak pada para pejuang demi kemerdekaan bangsanya. Novel ini
juga seolah menjadi kritik terhadap para penguasa masa itu, seperti yang
dituturkan oleh tokoh Ara, “Tidak, tidak
mungkin revolusi kalah, dengan pemuda-pemuda semacam itu, pemuda sekeras itu.
Kalau revolusi kalah, bukan karena mereka kurang berjuang. Kalau revolusi kalah
pasti karena para penguasanya yang berkhianat!”
Novel ini sangat menarik, karena
alih-alih mengambil sudut pandang tokoh-tokoh penting atau sentral pada masa
itu, Pram justru mengambil sudut pandang seorang aktris muda, seorang
perempuan. Karakteristik khas seorang perempuan yang dialami tokoh Larasati
membuat pembaca bisa merasakan seperti apa pergolakan yang terjadi pada masa
itu dari kacamata yang lain. Mengikuti perjalanan Ara dengan suasana yang
digambarkan cukup rinci membuat pembaca bisa merasakan bagaimana kondisi
Indonesia kala itu. Satu demi satu peristiwa yang dialami Ara semakin membawa
emosi dan membangkitkan semangat nasionalisme pembaca. Setelah selesai membaca
novel ini, saya bertanya pada sendiri, jika saya adalah Ara di masa itu, mana yang
akan saya pilih? Berpihak pada lawan kemudian hidup enak dan bermewah-mewahan,
atau tetap memilih hidup penuh kesulitan demi keyakinan akan kemerdekaan bangsa
sendiri dan bergabung dengan para pejuang?
Salah satu genre film yang digemari banyak orang adalah
genre sejarah. Banyak peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah yang menjadi inspirasi sebuah
film. Akhir-akhir ini, saya sendiri sedang menggandrungi film-film genre
sejarah yang mengangkat tema tentang nazi, perang dunia II, atau yang berkaitan
dengan hal-hal tersebut. Disini saya akan membagikan beberapa film bertema nazi
yang menurut saya recommended untuk ditonton.
SCHINDLER’S LIST
Tahun Produksi: 1993
Sutradara: Steven Spielberg
Rating IMDb: 8,9
Film ini merupakan karya Steven Spielberg yang paling saya
favoritkan. Schindler List bercerita mengenai seorang pengusaha Jerman bernama
Schlinder yang berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin orang Yahudi meskipun ia
harus menghabiskan seluruh hartanya. Film ini dibuat dalam format hitam putih,
namun emosi dari film ini begitu terasa hingga menguras air mata. Durasinya
cukup panjang namun saya rasa alur ceritanya tidak membosankan. Kisah mengenai
Schindler ini diangkat dari kisah nyata seorang pengusaha Jerman dengan nama
yang sama.
THE PIANIST
Tahun Produksi: 2002
Sutradara: Roman Polanski
Rating IMDb: 8,5
Sama seperti Schlinder List, tokoh dalam film ini juga
merupakan tokoh nyata. Film The Pianist berlatarkan masa pendudukan Jerman di
Polandia pada masa perang dunia II. Di film ini, kita akan mengikuti kisah
Wladysaw Szpilman, seorang pianis berdarah Yahudi yang harus menghentikan karir
musiknya saat Jerman mulai menduduki Polandia. Bukan hanya karirnya, seluruh
hidup Wladek ikut hancur dan berubah. Ia terpisah dengan keluarganya.
Bertahun-tahun Wladek menjalani kehidupan menjadi tawanan Nazi, hingga ia kabur
dan harus berpindah-pindah untuk bersembunyi dari kejaran tentara Nazi. Film
ini banyak memperlihatkan adegan-adegan sadis para tentara Nazi yang membuat
kita mengelus dada dan geleng-geleng kepala akan kelakuan para tentara yang
tampak tidak berkeprimanusiaan tersebut.
VALKYRIE
Tahun Produksi: 2008
Sutradara: Bryan Singer
Rating IMDb: 7,1
Kalau dua film yang saya sebut diatas lebih banyak
menceritakan tentang kekejama Nazi, Film Valkyrie ini lebih menceritakan
mengenai sisi lain organisasi yang terkenal kejam itu. Film ini juga diangkat
dari kisah nyata ketika sebagian tentara Nazi yang dipimpin oleh Claus von
Stauffenberg pada tahun 1944 menjalankan misi operasi Valkyrie. Operasi
Valkyrie adalah operasi yang dilakukan apabila Adolf Hitler sebagai pimpinan
Nazi meninggal dunia. Untuk itu, Kolonel Stauffenberg membuat rencana untuk
membunuh Adolf Hitler agar dapat menjalankan operasi Valkyrie. Langkah ini
diambil karena Kolonel Stauffenberg dan para pendukungnya mulai merasa bahwa
apa yang mereka lakukan selama ini adalah sesuatu yang salah dan organisasi
Nazi ini udah melewati batas. Dalam film ini, ada satu kutipan yang saya suka
yang diucapkan oleh kolonel Stauffenberg, “Tidak semua dari kita seperti mereka”
LIFE IS BEAUTIFUL
Tahun Produksi: 1997
Sutradara: Roberto Benigni
Rating IMDb: 8,6
Film ini bercerita tentang kisah haru antara ayah dan
anaknya yang harus tinggal dan bekerja paksa di kamp konsentrasi Nazi. Dibanding
memperlihatkan kekejaman Nazi, film ini lebih terfokus pada bagaimana usaha
sang ayah, Guido Orefico untuk meyakinkan sang anak, Joshua yang baru berusia 8
tahun bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan di kamp ini mereka hanya sedang
melakukan permainan untuk memenangkan hadiah berupa tank. Di awal film, kita
akan merasa seperti disuguhkan sebuah cerita komedi. Namun dari bagian tengah
hingga akhir film, kita akan disuguhkan kisah yang negitu mengharukan. Kisah
film ini sangat mengaduk-aduk emosi sehingga membuat anda merasa ingin tertawa
dan menangis sekaligus.
INGLOURIOUS BASTERDS
Tahun Produksi: 2009
Sutradara: Quentin Tarantino
Rating IMDb: 8,3
Film ini memang berlatarkan sejarah, namun jangan harap
untuk belajar sejarah dari film ini. Meskipun setting-nya berlatar sejarah pada
masa perang dunia II, namun cerita dalam film ini adalah hasil kreatif si
pembuat filmnya. Film ini berkisah mengenai pasukan Amerika berdarah Yahudi
yang terkenal hebat dan ditakuti para tentara jerman. Pasukan ini bernama The
Basterd. Pasukan ini juga terkenal kejam karena mereka akan menguliti kulit
kepala para tentara Nazi yang mereka tangkap. The Basterd berencana untuk
melakuka operasi Kino, yaitu operasi pembunuhan para petinggi Nazi saat mereka
mengadakan acara nonton film di sebuah bioskop. Rasa-rasanya, film ini
merupakan semacam aksi “balas dendam” si pembuat film terhadap Nazi. Secara
eksplisit, sang sutradara seolah ingin menyampaikan pesan bahwa melalui film,
kita bisa mengalahkan para Nazi tersebut.
Nah, itu tadi beberapa film dengan tema Nazi yang recommended
untuk ditonton. Saya tidak terlalu banyak mengulas isi film, karena takut
jatuhnya malah menjadi spoiler. Lebih baik langsung saja tonton filmnya, saya
jamin tidak akan menyesal. Bagi kalian yang punya judul-judul film lainnya yang
bertema Nazi, boleh kita share dan diskusikan di kolom komentar ya.
"Cinta Tak Pernah Tepat Waktu". Sepintas seperti kata-kata ala bucin ya. Namun judul ini adalah judul dari salah satu novel karya Puthut EA. Puthut EA memang dikenal lebih sering menelurkan karya-karya berupa cerita-cerita pendek. Makanya, saya sangat tertarik ketika tahu ternyata Puthut EA juga pernah mengeluarkan karya berupa novel.
Dari judulnya sudah bisa ditebak kalau novel ini bergenre romance. Namun tentu saja kisah romance ini tidak sereceh kisah-kisah romance seperti di novel-novel kebanyakan. Novel ini menceritakan tentang tokoh "Aku", seorang laki-laki mantan aktivis tahun 1998 yang pernah begitu dalam mencintai seorang perempuan hingga terluka begitu dalam. Bertahun-tahun si "Aku' mencoba menyembuhkan luka tersebut, Banyak wanita lain yang kemudian muncul di hidupnya, namun tetap saja sosok wanita itu menjadi bayang-bayang di hidupnya. Semua wanita yang datang, semua tidak tepat waktu. Yah, begitulah cinta,hehee..
Ada satu hal yang menurut saya menarik dari novel ini. Dari awal cerita, diceritakan bahwa yang berkisah disini adalah sosok "Aku". Saya awalnya mengira bahwa sosok "Aku" ini adalah sosok si penulis sendiri, Puthut EA. Apalagi setelah digambarkan latar belakang dan kehidupan si tokoh "Aku" yang adalah seorang penulis dan mantan aktivis di era 98. Namun di bab-bab akhir, justru muncul tokoh Puthut EA yang diceritakan sebagai teman penulis, dan diceritakan bahwa Puthut EA ditantang oleh teman-temannya untuk menuliskan kisah si "Aku' ini kedalam sebuah novel. Menurut saya ini sangat jenius!
Nah, untuk penutup, saya tuliskan satu quote yang paling terkenal dan juga paling saya suka dari buku "Cinta Tak Pernah Tepat Waktu" berikut ini : "Aku tak ingin cinta sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan hanya sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam disana, sebagaimana segelintit orang yang beruntung mendapatkannya.(Puthut EA)"
Film plot twist adalah film dengan plot atau alur cerita
yang tidak disusun secara beraturan dengan jalan cerita yang cenderung mengejutkan.
Film plot twist banyak disukai karena menyajikan alur cerita yang tidak mudah
ditebak. Biasanya unsur plot twist sering kita temui dalam film-film bergenre
thriller atau misteri. Saya sendiri termasuk salah satu orang yang sangat
menyukai film-film dengan unsur plot twist. Dari film-film plot twist yang
sudah saya
tonton, ada dua film yang justru berasal dari luar hollywood yang
membuat saya begitu terkesan. Kedua film ini disturadarai oleh satu orang yang
ama, yakni Oriol Paulo, seorang sutradara film yang berasal dari Spanyol.
Seluruh dialog dalam film ini memang menggunakan bahasa Spanyol, namun hal ini
tidak mengurangi kualitas jalan ceritanya. Nah, ini dia dua film plot twist
terbaik karya oriol Paulo
(1)The Body
The Body adalah film karya Oriol Paulo yang
diproduksi pada tahun 2012 dengan judul asli El Cuerpo. The Body berkisah
mengenai mayat seorang perempuan bernama Mayka yang hilang secara misterius
dari lab penyimpanan mayat. Seorang polisi bernama Jaime ditugaskan untuk
mengungkap kasus ini. Selama proses penyelidikan, tuduhan pencuri mayat Mayka tertuju
pada mantan suami Mayka, yaitu Alex. Bahkan semakin lama semakin terungkap
bahwa kematian Mayka seolah olah merupakan pembunuhan berencana yang dilakukan
oleh suaminya sendiri. Sepanjang jalan cerita, penonton akan dibawa untuk
menebak-nebak apa yang terjadi dalam hubungan pernikahan Alex dan Maykha. Dan diakhir
film, semua teka-teki tersebut terungkap dengan cerita yang tidak akan kalian
duga sebelumnya. Selain menyajikan cerita misteri, film ini juga menyajikan
kisah drama percintaan yang menarik dengan bumbu-bumbu kisah cinta segitiga.
(2)The Invisible Guest
The invisible Guest atau yang dalam bahasa
aslinya berjudul Contratiempo adalah
film yang juga disutradari Oriol Paulo di tahun 2017. Cerita dalam film ini
diambil dari sudut pandang Adrian Doria, seorang pebisnis sukses yang tengah
terjerat kasus dimana dirinya dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap teman
wanitanya, Laura Vidal. Untuk membebaskan tuduhan ini, Adrian dibantu oleh
seorang pengacara yang bernama Virginia Goodman. Keseluruhan jalan cerita
sebenarnya merupakan kilas balik yang diceritakan Adrian pada Virginia. Namun
seringkali Adrian tidak menceritakan detail kejadiannya secara lengkap kepada
Virginia. Hal ini membuat Virginia harus menggali lebih dalam keterangan dari
kliennya ini. Film ini memiliki alur maju mundur, dimana penonton baru bisa
memahami inti keseluruhan cerita di akhir film. Seperti film Oriol Paulo yang
saya ulas sebelumnya, The Invisible Guest ini memiliki ending cerita yang tidak
terduga. Sama seperti dialog yang ada di film, fokuslah pada detail. Maka,
itulah yang harus anda lakukan ketika menonton film ini. Fokus pada detail.
Itu tadi dua film dengan unsur plot twist yang menurut saya
paling berkesan dan tidak bisa dilupakan. Kalau kalian punya rekomendasi film
plot twist lain yang menurut kalian keren, boleh share dan kasih rekomendasi di
kolom komentar ya!