Thursday, September 5, 2019

[REVIEW BUKU] Larasati, Menengok Keadaan Revolusi Dari Sudut Pandang Perempuan


Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita
Itulah kutipan yang tertera pada bagian sampul belakang novel roman “Larasati” karya Pramoedya Ananta Toer. Tertulis bahwa novel ini pada mulanya diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Bintang Timur pada tahun 1960 sebelum akhirnya dicetak pertama kali menjadi novel oleh Hasta Mitra pada tahun 2000.
Novel “Larasati” mengambil setting di Indonesia pada masa pasca proklamasi, yakni ketika para tentara Belanda sedang gencar-gencarnya melakukan agresi untuk kembali merebut Indonesia. Novel ini mengambil sudut pandang seorang perempuan, Larasati. Larasati atau yang biasa disebut Ara diceritakan sebagai seorang aktris panggung yang cantik yang begitu teguh akan prinsipnya tentang revolusi dan kemerdekaan Indonesia. Ara yang awalnya menetap di Yogyakarta yang saat itu merupakan daerah Republik, dikisahkan pergi ke Jakarta yang merupakan wilayah pendudukan Belanda untuk menemui Ibunya. Selama perjalanannya dari daerah Republik ke wilayah pendudukan Belanda, Ata melihat begitu banyak peristiwa dan bertemu dengan orang-orang yang membuatnya semakin yakin untuk memperjuangkan revolusi. Begitu pula setelah ia sampai di Jakarta dan tinggal di rumah Ibunya. Ara bertemu dengan para pemuda yang begitu gigih dan tanpa pamrih untuk tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, para pemuda berani yang tidak pernah tergiur oleh kemewahan-kemewahan apapun yang ditawarkan bangsa asing. Ara juga beberapa kali dihadapkan pada dua pilihan, antara bekerja sama dengan pihak asing dan memperoleh berbagai keistimewaan namun berkhianat pada tanah airnya atau tetap berpihak pada para pejuang demi kemerdekaan bangsanya. Novel ini juga seolah menjadi kritik terhadap para penguasa masa itu, seperti yang dituturkan oleh tokoh Ara, “Tidak, tidak mungkin revolusi kalah, dengan pemuda-pemuda semacam itu, pemuda sekeras itu. Kalau revolusi kalah, bukan karena mereka kurang berjuang. Kalau revolusi kalah pasti karena para penguasanya yang berkhianat!
Novel ini sangat menarik, karena alih-alih mengambil sudut pandang tokoh-tokoh penting atau sentral pada masa itu, Pram justru mengambil sudut pandang seorang aktris muda, seorang perempuan. Karakteristik khas seorang perempuan yang dialami tokoh Larasati membuat pembaca bisa merasakan seperti apa pergolakan yang terjadi pada masa itu dari kacamata yang lain. Mengikuti perjalanan Ara dengan suasana yang digambarkan cukup rinci membuat pembaca bisa merasakan bagaimana kondisi Indonesia kala itu. Satu demi satu peristiwa yang dialami Ara semakin membawa emosi dan membangkitkan semangat nasionalisme pembaca. Setelah selesai membaca novel ini, saya bertanya pada sendiri, jika saya adalah Ara di masa itu, mana yang akan saya pilih? Berpihak pada lawan kemudian hidup enak dan bermewah-mewahan, atau tetap memilih hidup penuh kesulitan demi keyakinan akan kemerdekaan bangsa sendiri dan bergabung dengan para pejuang?

Saturday, July 27, 2019

[REVIEW FILM] FILM FILM BERTEMA NAZI TERBAIK



Salah satu genre film yang digemari banyak orang adalah genre sejarah. Banyak peristiwa-peristiwa besar yang terjadi  dalam sejarah yang menjadi inspirasi sebuah film. Akhir-akhir ini, saya sendiri sedang menggandrungi film-film genre sejarah yang mengangkat tema tentang nazi, perang dunia II, atau yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Disini saya akan membagikan beberapa film bertema nazi yang menurut saya recommended untuk ditonton.
SCHINDLER’S LIST
Tahun Produksi : 1993
Sutradara            : Steven Spielberg
Rating IMDb       : 8,9
Film ini merupakan karya Steven Spielberg yang paling saya favoritkan. Schindler List bercerita mengenai seorang pengusaha Jerman bernama Schlinder yang berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin orang Yahudi meskipun ia harus menghabiskan seluruh hartanya. Film ini dibuat dalam format hitam putih, namun emosi dari film ini begitu terasa hingga menguras air mata. Durasinya cukup panjang namun saya rasa alur ceritanya tidak membosankan. Kisah mengenai Schindler ini diangkat dari kisah nyata seorang pengusaha Jerman dengan nama yang sama.


THE PIANIST
Tahun Produksi : 2002
Sutradara            : Roman Polanski
Rating IMDb       : 8,5
Sama seperti Schlinder List, tokoh dalam film ini juga merupakan tokoh nyata. Film The Pianist berlatarkan masa pendudukan Jerman di Polandia pada masa perang dunia II. Di film ini, kita akan mengikuti kisah Wladysaw Szpilman, seorang pianis berdarah Yahudi yang harus menghentikan karir musiknya saat Jerman mulai menduduki Polandia. Bukan hanya karirnya, seluruh hidup Wladek ikut hancur dan berubah. Ia terpisah dengan keluarganya. Bertahun-tahun Wladek menjalani kehidupan menjadi tawanan Nazi, hingga ia kabur dan harus berpindah-pindah untuk bersembunyi dari kejaran tentara Nazi. Film ini banyak memperlihatkan adegan-adegan sadis para tentara Nazi yang membuat kita mengelus dada dan geleng-geleng kepala akan kelakuan para tentara yang tampak tidak berkeprimanusiaan tersebut.



VALKYRIE
Tahun Produksi : 2008
Sutradara            : Bryan Singer
Rating IMDb       : 7,1
Kalau dua film yang saya sebut diatas lebih banyak menceritakan tentang kekejama Nazi, Film Valkyrie ini lebih menceritakan mengenai sisi lain organisasi yang terkenal kejam itu. Film ini juga diangkat dari kisah nyata ketika sebagian tentara Nazi yang dipimpin oleh Claus von Stauffenberg pada tahun 1944 menjalankan misi operasi Valkyrie. Operasi Valkyrie adalah operasi yang dilakukan apabila Adolf Hitler sebagai pimpinan Nazi meninggal dunia. Untuk itu, Kolonel Stauffenberg membuat rencana untuk membunuh Adolf Hitler agar dapat menjalankan operasi Valkyrie. Langkah ini diambil karena Kolonel Stauffenberg dan para pendukungnya mulai merasa bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah sesuatu yang salah dan organisasi Nazi ini udah melewati batas. Dalam film ini, ada satu kutipan yang saya suka yang diucapkan oleh kolonel Stauffenberg, “Tidak semua dari kita seperti mereka”

LIFE IS BEAUTIFUL
Tahun Produksi : 1997
Sutradara            : Roberto Benigni
Rating IMDb       : 8,6
Film ini bercerita tentang kisah haru antara ayah dan anaknya yang harus tinggal dan bekerja paksa di kamp konsentrasi Nazi. Dibanding memperlihatkan kekejaman Nazi, film ini lebih terfokus pada bagaimana usaha sang ayah, Guido Orefico untuk meyakinkan sang anak, Joshua yang baru berusia 8 tahun bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan di kamp ini mereka hanya sedang melakukan permainan untuk memenangkan hadiah berupa tank. Di awal film, kita akan merasa seperti disuguhkan sebuah cerita komedi. Namun dari bagian tengah hingga akhir film, kita akan disuguhkan kisah yang negitu mengharukan. Kisah film ini sangat mengaduk-aduk emosi sehingga membuat anda merasa ingin tertawa dan menangis sekaligus. 

INGLOURIOUS BASTERDS
Tahun Produksi : 2009
Sutradara            : Quentin Tarantino
Rating IMDb       : 8,3
Film ini memang berlatarkan sejarah, namun jangan harap untuk belajar sejarah dari film ini. Meskipun setting-nya berlatar sejarah pada masa perang dunia II, namun cerita dalam film ini adalah hasil kreatif si pembuat filmnya. Film ini berkisah mengenai pasukan Amerika berdarah Yahudi yang terkenal hebat dan ditakuti para tentara jerman. Pasukan ini bernama The Basterd. Pasukan ini juga terkenal kejam karena mereka akan menguliti kulit kepala para tentara Nazi yang mereka tangkap. The Basterd berencana untuk melakuka operasi Kino, yaitu operasi pembunuhan para petinggi Nazi saat mereka mengadakan acara nonton film di sebuah bioskop. Rasa-rasanya, film ini merupakan semacam aksi “balas dendam” si pembuat film terhadap Nazi. Secara eksplisit, sang sutradara seolah ingin menyampaikan pesan bahwa melalui film, kita bisa mengalahkan para Nazi tersebut.

Nah, itu tadi beberapa film dengan tema Nazi yang recommended untuk ditonton. Saya tidak terlalu banyak mengulas isi film, karena takut jatuhnya malah menjadi spoiler. Lebih baik langsung saja tonton filmnya, saya jamin tidak akan menyesal. Bagi kalian yang punya judul-judul film lainnya yang bertema Nazi, boleh kita share dan diskusikan di kolom komentar ya.

Thursday, June 20, 2019

[RESENSI BUKU] Cinta Tak Pernah tepat Waktu, Novel Romance yang Gak Alay

"Cinta Tak Pernah Tepat Waktu". Sepintas seperti kata-kata ala bucin ya. Namun judul ini adalah judul dari salah satu novel karya Puthut EA. Puthut EA memang dikenal lebih sering menelurkan karya-karya berupa cerita-cerita pendek. Makanya, saya sangat tertarik ketika tahu ternyata Puthut EA juga pernah mengeluarkan karya berupa novel.
Dari judulnya sudah bisa ditebak kalau novel ini bergenre romance. Namun tentu saja kisah romance ini tidak sereceh kisah-kisah romance seperti di novel-novel kebanyakan. Novel ini menceritakan tentang tokoh "Aku", seorang laki-laki mantan aktivis tahun 1998 yang pernah begitu dalam mencintai seorang perempuan hingga terluka begitu dalam. Bertahun-tahun si "Aku' mencoba menyembuhkan luka tersebut, Banyak wanita lain yang kemudian muncul di hidupnya, namun tetap saja sosok wanita itu menjadi bayang-bayang di hidupnya. Semua wanita yang datang, semua tidak tepat waktu. Yah, begitulah cinta,hehee..
Ada satu hal yang menurut saya menarik dari novel ini. Dari awal cerita, diceritakan bahwa yang berkisah disini adalah sosok "Aku". Saya awalnya mengira bahwa sosok "Aku" ini adalah sosok si penulis sendiri, Puthut EA. Apalagi setelah digambarkan latar belakang dan kehidupan si tokoh "Aku" yang adalah seorang penulis dan mantan aktivis di era 98. Namun di bab-bab akhir, justru muncul tokoh Puthut EA yang diceritakan sebagai teman penulis, dan diceritakan bahwa Puthut EA ditantang oleh teman-temannya untuk menuliskan kisah si "Aku' ini kedalam sebuah novel. Menurut  saya ini sangat jenius!
Nah, untuk penutup, saya tuliskan satu quote yang paling terkenal dan juga paling saya suka dari buku "Cinta Tak Pernah Tepat Waktu"  berikut ini :
"Aku tak ingin cinta sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan hanya sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam disana, sebagaimana segelintit orang yang beruntung mendapatkannya.(Puthut EA)"

Thursday, April 4, 2019

[REVIEW FILM] DUA FILM PLOT TWIST TERBAIK KARYA ORIOL PAULO


Film plot twist adalah film dengan plot atau alur cerita yang tidak disusun secara beraturan dengan jalan cerita yang cenderung mengejutkan. Film plot twist banyak disukai karena menyajikan alur cerita yang tidak mudah ditebak. Biasanya unsur plot twist sering kita temui dalam film-film bergenre thriller atau misteri. Saya sendiri termasuk salah satu orang yang sangat menyukai film-film dengan unsur plot twist. Dari film-film plot twist yang sudah saya

tonton, ada dua film yang justru berasal dari luar hollywood yang membuat saya begitu terkesan. Kedua film ini disturadarai oleh satu orang yang ama, yakni Oriol Paulo, seorang sutradara film yang berasal dari Spanyol. Seluruh dialog dalam film ini memang menggunakan bahasa Spanyol, namun hal ini tidak mengurangi kualitas jalan ceritanya. Nah, ini dia dua film plot twist terbaik karya oriol Paulo
(1)    The Body
The Body adalah film karya Oriol Paulo yang diproduksi pada tahun 2012 dengan judul asli El Cuerpo. The Body berkisah mengenai mayat seorang perempuan bernama Mayka yang hilang secara misterius dari lab penyimpanan mayat. Seorang polisi bernama Jaime ditugaskan untuk mengungkap kasus ini. Selama proses penyelidikan, tuduhan pencuri mayat Mayka tertuju pada mantan suami Mayka, yaitu Alex. Bahkan semakin lama semakin terungkap bahwa kematian Mayka seolah olah merupakan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Sepanjang jalan cerita, penonton akan dibawa untuk menebak-nebak apa yang terjadi dalam hubungan pernikahan Alex dan Maykha. Dan diakhir film, semua teka-teki tersebut terungkap dengan cerita yang tidak akan kalian duga sebelumnya. Selain menyajikan cerita misteri, film ini juga menyajikan kisah drama percintaan yang menarik dengan bumbu-bumbu kisah cinta segitiga.
(2)    The Invisible Guest
The invisible Guest atau yang dalam bahasa aslinya berjudul  Contratiempo adalah film yang juga disutradari Oriol Paulo di tahun 2017. Cerita dalam film ini diambil dari sudut pandang Adrian Doria, seorang pebisnis sukses yang tengah terjerat kasus dimana dirinya dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap teman wanitanya, Laura Vidal. Untuk membebaskan tuduhan ini, Adrian dibantu oleh seorang pengacara yang bernama Virginia Goodman. Keseluruhan jalan cerita sebenarnya merupakan kilas balik yang diceritakan Adrian pada Virginia. Namun seringkali Adrian tidak menceritakan detail kejadiannya secara lengkap kepada Virginia. Hal ini membuat Virginia harus menggali lebih dalam keterangan dari kliennya ini. Film ini memiliki alur maju mundur, dimana penonton baru bisa memahami inti keseluruhan cerita di akhir film. Seperti film Oriol Paulo yang saya ulas sebelumnya, The Invisible Guest ini memiliki ending cerita yang tidak terduga. Sama seperti dialog yang ada di film, fokuslah pada detail. Maka, itulah yang harus anda lakukan ketika menonton film ini. Fokus pada detail.

Itu tadi dua film dengan unsur plot twist yang menurut saya paling berkesan dan tidak bisa dilupakan. Kalau kalian punya rekomendasi film plot twist lain yang menurut kalian keren, boleh share dan kasih rekomendasi di kolom komentar ya!

[REVIEW BUKU] Cantik Itu Luka, Tentang Para Perempuan yang Dikisahkan Dari Sisi Berbeda

Sepanjang membaca novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, saya selalu dibuat kagum dengan karakter para perempuan-perempuan didalamnya....